mabruk.co.id - Dari jamaah wanita datang ke Masjidil Haram dengan harapan bisa mencium Hajar Aswad secara langsung. Keinginan itu wajar karena Hajar Aswad memang memiliki keutamaan dan menjadi bagian yang sangat istimewa di Ka’bah.
Tapi suasana di sekitar Hajar Aswad tidak selalu mudah. Area thawaf sangat padat, arus jamaah terus bergerak, dan dorongan antar orang sering sulit dihindari. Di titik inilah banyak wanita mulai bingung. Apakah tetap boleh memaksakan diri demi bisa mencium Hajar Aswad, atau justru lebih baik menghindari kerumunan?
Mencium Hajar Aswad Memang Sunnah Tapi Bukan Kewajiban
Banyak jamaah baru memahami hal ini setelah mengikuti manasik atau mendengar penjelasan pembimbing di Tanah Suci. Mencium Hajar Aswad memang sunnah dan memiliki keutamaan, tapi thawaf tetap sah meski jamaah tidak berhasil menyentuhnya sama sekali.
Karena itu jamaah sebenarnya tidak perlu memaksakan diri sampai membahayakan tubuh sendiri hanya demi mengejar sunnah.
Hal yang biasanya dijelaskan pembimbing saat manasik:
- Mencium Hajar Aswad termasuk sunnah
- Thawaf tetap sah tanpa menyentuh Hajar Aswad
- Istilam dari kejauhan tetap diperbolehkan
- Keselamatan jamaah lebih diutamakan
- Menjaga adab selama thawaf sangat penting
Karena itu banyak jamaah akhirnya memilih cukup mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad sambil bertakbir ketika kondisi area terlalu padat.
Area Hajar Aswad Jadi Titik Paling Padat Saat Thawaf
Kalau melihat dari lantai atas Masjidil Haram, area Hajar Aswad terlihat seperti pusaran manusia. Semua bergerak menuju satu titik yang sama. Semakin dekat ke sudut Ka’bah, arus tubuh makin rapat dan sulit dikendalikan.
Situasi paling padat biasanya terjadi saat:
- Selesai shalat wajib
- Malam Jumat
- Musim Ramadhan
- Musim liburan akhir tahun
- Waktu thawaf setelah Isya
Kondisi yang sering terjadi di area Hajar Aswad:
- Arus jamaah berhenti mendadak
- Dorongan dari belakang sulit ditahan
- Posisi jamaah saling berhimpitan
- Banyak tangan terangkat bersamaan
- Jamaah mudah terpisah dari rombongan
Bagi wanita, kondisi seperti ini cukup berisiko karena kontak fisik dengan laki laki sering sulit dihindari saat kerumunan sangat padat.
Baca Juga: Penyebab Gagal Berangkat Umroh Saat Sudah Dekat Jadwal Terbang
Hukum Wanita Berdesakan Mencium Hajar Aswad Berkaitan dengan Menjaga Diri
Pembahasan ini sering disalahpahami hanya sebatas boleh atau tidak boleh. Padahal ulama juga membahas kondisi lapangan, keamanan jamaah, sampai kemungkinan munculnya mudarat saat area Hajar Aswad terlalu padat.
Karena semakin dekat ke sudut Ka’bah, tekanan jamaah biasanya jauh lebih besar dibanding jalur thawaf biasa. Banyak orang berjalan bukan lagi mengikuti langkah sendiri, tapi ikut terdorong arus manusia dari berbagai arah.
Ulama Lebih Mengutamakan Keselamatan dan Kehormatan Wanita
Dalam banyak penjelasan ulama, wanita tidak dianjurkan memaksakan diri masuk ke kerumunan padat demi mencium Hajar Aswad jika kondisi di lapangan berpotensi menimbulkan mudarat.
Karena tujuan ibadah bukan hanya mengejar sunnah, tapi juga menjaga kehormatan dan keselamatan diri selama berada di Tanah Suci.
Hal yang biasanya menjadi pertimbangan:
- Terjadi ikhtilat atau campur baur berlebihan
- Tubuh saling berhimpitan
- Risiko terjatuh di area thawaf
- Sulit menjaga aurat saat terdesak
- Potensi menyakiti jamaah lain
Karena itu banyak pembimbing lebih menyarankan wanita melakukan istilam dari jarak aman dibanding memaksakan diri masuk ke pusat kerumunan.
Istilam dari Jarak Jauh Tetap Memiliki Nilai Ibadah
Sebagian jamaah merasa thawaf kurang sempurna jika tidak menyentuh Hajar Aswad langsung. Padahal Rasulullah ﷺ juga pernah memberi isyarat ke arah Hajar Aswad ketika kondisi ramai.
Karena itu wanita tetap bisa menjalankan sunnah dengan cara yang lebih aman.
Yang biasanya dilakukan jamaah saat kondisi padat:
- Mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad
- Membaca takbir saat sejajar
- Tetap menjaga alur thawaf
- Tidak berhenti mendadak di tengah arus jamaah
- Mengutamakan kekhusyukan ibadah
Cara seperti ini justru membuat thawaf terasa lebih tenang tanpa harus berebut.
Memaksakan Diri Kadang Justru Mengganggu Jamaah Lain
Area thawaf bergerak terus tanpa henti. Saat ada jamaah berhenti mendadak atau memaksa maju ke depan, arus manusia bisa langsung tersendat.
Hal yang cukup sering terjadi saat jamaah memaksakan mendekati Hajar Aswad:
- Jamaah lain terdorong keluar jalur
- Lansia kesulitan menjaga keseimbangan
- Rombongan terpisah
- Suasana thawaf menjadi kacau
- Emosi jamaah mulai terpancing
Padahal menjaga kenyamanan dan keamanan sesama jamaah juga termasuk bagian penting dalam ibadah di Masjidil Haram.
Banyak Jamaah Wanita Baru Kaget Saat Melihat Kondisi Nyata di Lapangan
Ada yang sejak awal membayangkan bisa mendekat dengan mudah ke Hajar Aswad. Tapi begitu melihat kondisi area thawaf secara langsung, banyak yang akhirnya memilih mengurungkan niat karena kerumunan memang sangat padat.
Situasi biasanya terasa lebih berat saat:
- Musim liburan
- Awal Ramadhan
- Malam Jumat
- Selesai shalat wajib
- Musim umroh akhir tahun
Di waktu seperti itu, area sekitar Hajar Aswad hampir tidak pernah benar benar kosong.
Karena itu pembimbing umroh biasanya juga mengarahkan jamaah memahami waktu dan kondisi yang lebih aman selama thawaf berlangsung.
Wanita Lebih Dianjurkan Menjaga Kekhusyukan Thawaf
Tujuan utama thawaf bukan sekadar berhasil menyentuh Hajar Aswad. Banyak ulama justru menekankan pentingnya menjaga kekhusyukan, adab, dan ketenangan selama ibadah.
Hal yang lebih utama selama thawaf:
- Menjaga fokus ibadah
- Tidak menyakiti jamaah lain
- Menjaga aurat dan sikap
- Mengikuti arus thawaf dengan tertib
- Menghindari keributan dan dorongan berlebihan
Karena itu tidak sedikit jamaah wanita yang akhirnya merasa lebih nyaman menjalankan thawaf dari jalur yang lebih longgar dibanding harus memaksakan diri ke titik paling padat.
Baca Juga: Ini Daftar Perlengkapan Manasik Umroh Wanita dan Pria
Pembimbing Umroh Biasanya Mengingatkan Jamaah Tentang Kondisi Nyata Area Thawaf
Saat manasik, pembimbing biasanya tidak hanya menjelaskan teori thawaf. Jamaah juga diarahkan memahami kondisi nyata di Masjidil Haram supaya tidak kaget saat melihat langsung kepadatan jamaah di sekitar Ka’bah.
Hal yang biasanya dijelaskan saat pembekalan:
- Titik paling padat di area thawaf
- Waktu yang lebih aman untuk ibadah
- Cara menjaga rombongan
- Posisi aman bagi lansia dan wanita
- Cara melakukan istilam tanpa berdesakan
Di Mabruk Tour, pembimbing biasanya juga membantu jamaah memahami kondisi lapangan secara lebih realistis supaya ibadah terasa lebih tenang dan tidak memaksakan diri di area yang terlalu padat.
Jalankan Umroh Lebih Tenang Bersama Mabruk Tour
Banyak kondisi di Tanah Suci baru benar benar terasa saat jamaah sudah berada langsung di area Masjidil Haram. Karena itu pembimbingan dan manasik yang jelas cukup membantu supaya jamaah tidak bingung menghadapi kondisi ramai saat thawaf, sa’i, maupun aktivitas ibadah lainnya.
Melalui Mabruk Tour, jamaah biasanya mendapatkan pendampingan manasik yang lebih terarah, mulai dari persiapan keberangkatan, pemahaman alur ibadah, sampai gambaran kondisi nyata dilapangan selama umroh berlangsung.
Jalani ibadah dengan persiapan yang lebih nyaman dan terarah, kamu bisa melihat pilihan program haji dan umroh langsung melalui Mabruk Tour.