mabruk.co.id - Banyak jamaah mempersiapkan perjalanan ke Tanah Suci dengan membeli perlengkapan, mengikuti manasik, dan menghafalkan doa. Namun, tidak semua menyadari bahwa kesalahan kecil selama menjalankan haji atau umrah dapat berdampak pada kesempurnaan ibadah
Di lapangan, pembimbing ibadah sering menemukan kesalahan yang terus berulang dari musim ke musim. Pembimbing ibadah justru sering menemukan kekeliruan yang sama pada setiap musim haji dan umrah, mulai dari salah memahami batas miqat, keliru menjalankan tawaf, terburu-buru ketika sa'i, hingga kurang memperhatikan aturan selama masih berada dalam keadaan ihram.
Karena itu, memahami kesalahan saat haji dan umroh sama pentingnya dengan mempelajari tata cara ibadah itu sendiri. Bekal ilmu yang benar membantu jamaah menjalankan setiap rangkaian manasik dengan lebih tenang sekaligus mengurangi risiko melakukan pelanggaran yang sebenarnya dapat dihindari.
Mengapa Kesalahan Saat Haji dan Umroh Masih Sering Terjadi?
Banyak orang mengira kesalahan saat haji dan umroh hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan agama. Kenyataannya, penyebabnya jauh lebih beragam. Kepadatan jutaan jamaah, kelelahan fisik, perubahan cuaca yang ekstrem, hingga rasa panik ketika terpisah dari rombongan sering membuat seseorang mengambil keputusan yang keliru.
Kesalahan saat haji dan umroh juga sering muncul karena jamaah hanya berfokus pada ibadah yang terlihat, seperti tawaf atau sa'i, sementara aturan yang berlaku sejak ihram justru kurang diperhatikan.
Faktanya, sebagian besar kesalahan yang mengharuskan jamaah membayar dam bukan terjadi di depan Ka'bah, melainkan sejak awal memasuki ihram. Banyak jamaah baru menyadari kekeliruannya setelah mendapatkan penjelasan dari pembimbing.
Kesalahan Saat Haji dan Umroh yang Berhubungan dengan Ihram
Ihram menjadi awal seluruh rangkaian haji maupun umroh. Apabila jamaah sudah keliru pada tahap ini, dampaknya dapat berlanjut hingga ibadah berikutnya. Karena itu, sebagian besar pembimbing manasik selalu memberikan perhatian lebih pada pembahasan ihram sebelum keberangkatan.
Melewati Miqat Tanpa Berniat Ihram
Kesalahan saat haji dan umroh yang paling sering dibahas ulama adalah melewati miqat tanpa berniat ihram. Kondisi ini banyak terjadi karena jamaah tertidur di pesawat, belum mengenakan pakaian ihram ketika pengumuman miqat disampaikan, atau mengira niat dapat dilakukan setelah tiba di hotel di Makkah.
Padahal miqat merupakan batas yang telah ditetapkan untuk memulai ihram. Apabila seseorang melewatinya tanpa ihram untuk melaksanakan haji atau umroh, ia tidak cukup hanya berniat setelah sampai di Makkah. Dalam kondisi tertentu, jamaah harus kembali ke miqat atau menunaikan dam sesuai ketentuan fikih apabila tidak kembali ke miqat.
Menggunakan Produk Beraroma Setelah Memulai Ihram
Larangan memakai wewangian sering dipahami secara sempit. Sebagian jamaah hanya menghindari parfum, tetapi tetap menggunakan deodoran, lotion, minyak rambut, atau tisu basah yang mengandung aroma.
Kesalahan seperti ini banyak terjadi karena jamaah terbiasa menggunakan perlengkapan mandi dari hotel tanpa memeriksa kandungannya terlebih dahulu. Ada pula yang menyemprotkan parfum ke pakaian sebelum berangkat menuju Masjidil Haram karena ingin tetap segar di tengah cuaca panas.
Agar tidak melakukan pelanggaran, siapkan perlengkapan pribadi sejak masih berada di Indonesia. Pilih sabun, sampo, pelembap, dan produk perawatan yang memang aman digunakan selama ihram.
Memotong Rambut atau Kuku Tanpa Disadari
Larangan ihram berikutnya yang sering terjadi adalah memotong rambut atau kuku sebelum tahallul. Sebagian jamaah melakukannya karena kuku terasa panjang, rambut mengganggu, atau tanpa sadar mencabut rambut yang rontok ketika menyisir. Dalam kondisi tertentu, rambut yang rontok dengan sendirinya tentu berbeda dengan tindakan sengaja memotong atau mencabutnya.
Baca Juga: Penting! Aturan Barang Bawaan Jemaah Haji
Kesalahan Saat Tawaf yang Masih Sering Terjadi
Meskipun terlihat sederhana karena hanya mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran, pelaksanaannya tetap memiliki aturan yang harus dipahami.
Memaksakan Diri Mencium Hajar Aswad
Keinginan mencium Hajar Aswad merupakan hal yang wajar karena termasuk sunnah Rasulullah SAW. Namun, tidak sedikit jamaah yang memaksakan diri menerobos kerumunan hingga mendorong, menarik, bahkan menyakiti jamaah lain.
Apabila kondisi sangat padat, jamaah cukup memberikan isyarat ke arah Hajar Aswad sambil bertakbir, sebagaimana dicontohkan dalam berbagai kondisi.
Salah Menghitung Putaran Tawaf
Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah kehilangan hitungan putaran. Kondisi Masjidil Haram yang padat membuat konsentrasi mudah terpecah. Jamaah bisa berhenti karena terpisah dari rombongan, menghindari kursi roda, atau berpindah jalur sehingga lupa sedang berada pada putaran keberapa.
Untuk mengurangi risiko tersebut, fokuslah pada ibadah selama tawaf. Hindari terlalu sering menggunakan telepon genggam atau berbincang mengenai hal yang tidak berkaitan dengan ibadah. Bila merasa ragu terhadap jumlah putaran, gunakan hitungan yang paling diyakini agar ibadah tetap berjalan sesuai kaidah fikih.
Sibuk Mendokumentasikan Perjalanan
Membawa telepon genggam selama haji atau umrah tentu bukan masalah. Banyak jamaah ingin mengabadikan pengalaman yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. Namun, keinginan tersebut terkadang justru membuat fokus ibadah berkurang.
Di Masjidil Haram, misalnya, masih sering terlihat jamaah berhenti mendadak di jalur tawaf untuk mengambil foto, merekam video, atau mencari sudut pengambilan gambar yang dianggap paling bagus.
Beberapa kebiasaan yang sebaiknya dihindari meliputi:
- Mengambil swafoto di tengah lintasan tawaf.
- Melakukan siaran langsung ketika menjalankan ibadah.
- Berulang kali berhenti demi mendapatkan sudut foto terbaik.
- Lebih fokus membuat konten dibanding memperbanyak doa dan zikir.
- Mengabaikan arahan pembimbing karena sibuk menggunakan telepon genggam.
Mendokumentasikan perjalanan tentu tidak dilarang. Namun, jangan sampai tujuan utama berangkat ke Tanah Suci bergeser menjadi mengejar foto atau video.
Kesalahan Saat Sai yang Sering Dianggap Sepele
Setelah menyelesaikan tawaf, jamaah melanjutkan ibadah sa'i antara Bukit Shafa dan Marwah. Banyak jamaah mengira seluruh lintasan sa'i harus ditempuh dengan berlari kecil. Padahal, anjuran berlari ringan atau harwalah hanya berlaku bagi jamaah laki-laki pada area yang ditandai lampu hijau.
Kesalahan ini sering membuat jamaah cepat kelelahan, terutama lansia atau mereka yang baru pertama kali datang ke Tanah Suci.
Untuk menghindari kesalahan saat haji dan umroh ketika melaksanakan sa'i, perhatikan beberapa ketentuan berikut:
- Mulailah sa'i dari Bukit Shafa
- Harwalah hanya dilakukan laki-laki pada area lampu hijau.
- Perempuan tetap berjalan biasa sepanjang lintasan.
- Jangan memaksakan kecepatan jika kondisi tubuh mulai lelah.
- Perbanyak zikir dan doa selama perjalanan
Kesalahan saat sa'i sering bukan berasal dari kurangnya tenaga, tetapi dari kurangnya pemahaman. Jamaah yang mengetahui kapan harus berjalan, kapan harwalah dilakukan, dan bagaimana menjaga kekhusyukan selama sa'i biasanya dapat menyelesaikan rangkaian ibadah dengan lebih tenang tanpa terburu-buru.
Baca Juga: Memahami Hadyu dalam Haji dan Umrah
Bagaimana Cara Bekali Diri dengan Manasik yang Benar?
Manasik bukan sekadar agenda formal sebelum keberangkatan. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi calon jamaah untuk memahami praktik ibadah secara menyeluruh, termasuk berbagai kondisi yang sering terjadi di Tanah Suci.
Supaya lebih siap, lakukan beberapa hal berikut:
- Ikuti seluruh sesi manasik hingga selesai.
- Catat urutan setiap rangkaian ibadah.
- Tanyakan hal yang masih membingungkan kepada pembimbing.
- Pelajari kembali larangan ihram sebelum keberangkatan.
- Pahami kondisi yang mewajibkan dam agar tidak panik jika terjadi kesalahan.
Persiapan seperti ini membantu jamaah mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi situasi yang tidak dijelaskan secara rinci di buku panduan.
Bersiap Menjalankan Haji dan Umroh Bersama Mabruk
Persiapan yang matang akan membuat perjalanan ibadah terasa lebih nyaman. Selain membantu proses keberangkatan, Mabruk membekali setiap calon jamaah melalui program manasik yang terstruktur sehingga jamaah memahami bukan hanya tata cara ibadah, tetapi juga berbagai kesalahan yang paling sering terjadi selama haji maupun umroh.
Pembimbing Mabruk Tour memberikan penjelasan berdasarkan praktik yang sering ditemui di lapangan. Jamaah dapat memahami cara menjaga ihram, melaksanakan tawaf dan sa'i dengan benar, hingga menghadapi berbagai situasi yang mungkin terjadi selama berada di Tanah Suci.
Apabila kamu sedang merencanakan haji atau umroh, Mabruk Tour siap mendampingi setiap tahap persiapan hingga pelaksanaan ibadah. Dengan pembinaan yang tepat, perjalanan menuju Baitullah tidak hanya menjadi lebih nyaman, tetapi juga membantumu menjalankan setiap rangkaian ibadah sesuai tuntunan syariat.