mabruk.co.id - Ada satu momen dalam perjalanan haji dan umrah ketika suasana perjalanan berubah. Jamaah yang sebelumnya masih memikirkan koper, hotel, jadwal penerbangan, dan perjalanan menuju Makkah mulai memasuki rangkaian ibadah dengan aturan yang lebih khusus. Momen itu dimulai ketika jamaah memasuki keadaan ihram.
Bagi jamaah yang baru pertama kali ke Tanah Suci, pakaian ihram mungkin terlihat sederhana. Laki-laki hanya menggunakan dua lembar kain tanpa jahitan, sedangkan perempuan tetap mengenakan pakaian yang menutup aurat sesuai ketentuan.
Makna dan aturan ihram dalam haji dan umrah berkaitan dengan kondisi ibadah yang membuat jamaah memiliki sejumlah ketentuan khusus. Setelah berniat di miqat, jamaah mulai menjaga diri dari beberapa hal yang sebelumnya boleh dilakukan.
Ihram Bukan Sekadar Pakaian yang Dipakai Jamaah
Ihram merujuk pada keadaan khusus ketika seseorang mulai menjalankan ibadah haji atau umrah setelah berniat pada miqat. Sejak saat itu, berlaku sejumlah larangan yang harus jamaah perhatikan sampai tahallul.
Kementerian Agama menjelaskan bahwa miqat menjadi batas bagi jamaah untuk memulai ihram. Jamaah Indonesia dapat mengambil miqat sesuai jalur perjalanan. Jamaah yang datang melalui Madinah, misalnya, biasa mengambil miqat di Zulhulaifah atau Bir Ali.
Pakaian ihram laki-laki terdiri dari izar sebagai kain bagian bawah dan rida sebagai kain bagian atas. Keduanya tidak dijahit seperti pakaian sehari-hari. Panduan resmi Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi juga menjelaskan ketentuan tersebut untuk jamaah laki-laki.
Kesederhanaan pakaian ini membuat jamaah tidak perlu memikirkan penampilan selama menjalankan rangkaian ibadah. Perbedaan status sosial, pekerjaan, jabatan, dan gaya berpakaian sehari-hari tidak menjadi hal yang ditonjolkan.
Kapan Aturan Ihram Mulai Berlaku?
Bagian ini sering membuat jamaah baru ragu. Ada yang takut melakukan kesalahan sejak memakai kain ihram di hotel. Ada pula yang mengira semua larangan sudah berlaku hanya karena sudah mengganti pakaian.
Jamaah dapat mengenakan pakaian ihram sebelum mencapai miqat. Bahkan, jamaah dapat mempersiapkan diri dari hotel atau tempat keberangkatan. Persiapan sebelum ihram justru perlu jamaah lakukan sebelum mencapai miqat. Jamaah dapat mandi, memotong kuku, merapikan rambut, dan melakukan persiapan pribadi lainnya sebelum niat.
Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi juga mencantumkan anjuran mandi dan menggunakan wewangian pada tubuh sebelum memasuki ihram. Wewangian tersebut tidak digunakan pada pakaian ihram.
Baca Juga: Cara Mencegah Heatstroke Saat Ibadah Haji Agar Tetap Aman
Larangan Ihram yang Perlu Jamaah Ingat
Memahami makna dan aturan ihram dalam haji dan umrah akan terasa lebih mudah jika jamaah mengingat larangan berdasarkan situasi yang mungkin terjadi selama perjalanan.
Beberapa larangan berlaku bagi laki-laki dan perempuan, sementara sebagian lainnya memiliki ketentuan khusus berdasarkan jenis kelamin.
Larangan yang Berlaku bagi Laki Laki dan Perempuan
Setelah memasuki ihram, jamaah perlu menjaga diri dari beberapa hal berikut:
- Menggunakan wewangian setelah ihram
- Memotong kuku
- Mencukur, mencabut, atau memotong rambut dan bulu tubuh
- Melakukan hubungan seksual dan hal yang berkaitan dengannya
- Menikah, menikahkan, atau meminang
- Memburu atau membunuh hewan buruan
- Bertengkar, berkata kotor, atau melakukan perbuatan yang bertentangan dengan adab ibadah
Kementerian Agama mencantumkan larangan tersebut dalam Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah. Panduan tersebut juga membedakan larangan ihram dengan aktivitas lain yang tetap boleh jamaah lakukan.
Larangan Khusus bagi Laki Laki
Jamaah laki-laki tidak boleh mengenakan pakaian biasa yang mengikuti bentuk tubuh seperti celana atau baju selama berada dalam keadaan ihram.
Kemenag juga menjelaskan larangan menggunakan penutup kepala yang melekat, serta alas kaki yang menutup mata kaki dan tumit.
Ketentuan ini sering membuat jamaah baru bertanya tentang barang sehari-hari. Misalnya, bagaimana jika ingin menggunakan sandal tertentu atau harus mengganti kain ihram karena kotor?
Jamaah tidak perlu panik. Pakaian ihram dapat dilepas atau diganti di tempat tertutup ketika ada kebutuhan, misalnya saat mandi atau ketika pakaian kotor. Buku manasik Kemenag menjelaskan bahwa kondisi tersebut berbeda dengan sengaja membuka pakaian ihram di tempat terbuka.
Larangan Khusus bagi Perempuan
Perempuan tetap menggunakan pakaian tertutup selama ihram. Namun, perempuan tidak mengenakan niqab atau cadar yang menempel pada wajah dan tidak menggunakan sarung tangan selama ihram.
Panduan resmi Arab Saudi untuk umrah juga menyebut perempuan dapat mengenakan pakaian sopan yang diperbolehkan, dengan menghindari niqab dan sarung tangan selama ihram.
Karena praktik di lapangan dapat membuat jamaah menghadapi situasi berbeda, pembimbing manasik menjadi tempat yang tepat untuk menanyakan detail sebelum berangkat.
Mengapa Larangan Ihram Perlu Dijaga dengan Serius?
Ihram membuat jamaah belajar mengendalikan hal-hal yang biasanya dianggap sederhana. Merapikan rambut, memotong kuku, memakai parfum, atau mengganti pakaian tidak lagi dilakukan sebebas biasanya.
Di sinilah makna dan aturan ihram dalam haji dan umrah terasa lebih dalam. Jamaah tidak sekadar mengganti pakaian, tetapi memasuki fase ibadah yang menuntut perhatian terhadap tindakan sehari-hari.
Coba bayangkan jamaah sedang berada di perjalanan panjang menuju Makkah. Setelah mandi, ia terbiasa memakai parfum. Tanpa sadar, tangannya mengambil botol parfum seperti rutinitas di rumah. Kebiasaan kecil seperti ini bisa menjadi masalah jika jamaah sudah masuk ihram.
Pilih Produk yang Aman untuk Masa Ihram
Barang perawatan pribadi juga perlu diperiksa sebelum berangkat. Panduan umrah resmi Arab Saudi menyarankan jamaah membawa produk perawatan dan kebutuhan pribadi yang bebas pewangi selama ihram.
Jamaah dapat menyiapkan sabun, sampo, pelembap, atau produk lain yang sesuai kebutuhan dan memastikan kandungannya tidak mengandung wewangian yang perlu dihindari selama ihram.
Persiapan kecil seperti ini sering terasa sepele di Indonesia. Namun ketika jamaah sudah berada di Tanah Suci dan harus bergerak bersama rombongan, mencari pengganti produk secara mendadak tentu terasa lebih merepotkan.
Baca Juga: Lebih Baik Pergi Haji atau Umrah Dulu Saat Dana Sudah Tersedia?
Jangan Hanya Menghafal Larangan, Pahami Situasinya
Jamaah mungkin sudah hafal bahwa parfum tidak boleh digunakan. Namun, bagaimana jika pakaian terkena bau dari orang lain? Bagaimana jika kain ihram terkena kotoran? Bagaimana jika sandal rusak? Bagaimana jika jamaah lupa bahwa dirinya masih dalam keadaan ihram?
Makna dan aturan ihram dalam haji dan umrah akan lebih mudah dipahami ketika pembimbing menjelaskan contoh yang dekat dengan aktivitas jamaah. Dengan begitu, jamaah tidak hanya membawa catatan dari ruang manasik, tetapi juga memiliki gambaran ketika menghadapi situasi nyata.
Mabruk Membantu Jamaah Memahami Ihram Sebelum Berangkat
Perjalanan haji dan umrah akan terasa berbeda ketika jamaah mengetahui alasan di balik setiap tahapan. Mabruk menempatkan pembekalan manasik sebagai bagian penting dari persiapan jamaah. Program manasik Mabruk membahas fiqih, adab, dan rangkaian ibadah agar jamaah memiliki bekal sebelum memasuki Tanah Suci.
Mabruk juga menyediakan pembimbing yang mendampingi jamaah selama perjalanan. Pendampingan seperti ini terasa penting ketika jamaah menghadapi pertanyaan yang tidak muncul saat belajar teori. Jamaah bisa mendapatkan arahan mengenai pelaksanaan thawaf, sa’i, adab di tempat suci, hingga situasi yang membutuhkan penyesuaian selama perjalanan.
Makna dan aturan ihram dalam haji dan umrah pada akhirnya mengajarkan satu hal penting. Ketika seseorang sudah berniat memenuhi panggilan Allah, ia juga perlu belajar menahan diri dan mengikuti ketentuan ibadah dengan sungguh-sungguh.
Pakaian yang sederhana hanya menjadi bagian yang terlihat dari luar. Hal yang lebih penting adalah sikap jamaah setelah memakainya. Menjaga ucapan, menahan emosi, menghindari larangan, dan mengikuti tuntunan ibadah menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Mabruk Tour membantu jamaah mempersiapkan perjalanan dari sisi manasik dan pendampingan agar ibadah di Tanah Suci tidak terasa seperti perjalanan yang harus dijalani dengan banyak tebakan. Dengan bekal yang lebih jelas sejak Indonesia, jamaah dapat berangkat dengan hati yang lebih siap dan menjalankan setiap rangkaian ibadah dengan lebih tenang.