mabruk.co.id - Tanggal keberangkatan sudah dekat. Koper mungkin sudah hampir penuh, paspor sudah disiapkan, bahkan jadwal manasik sudah masuk kalender. Lalu beberapa hari sebelum berangkat, kondisi badan justru menurun.
Jamaah yang sakit sebelum umroh tidak selalu harus membatalkan perjalanan. Namun, keputusan berangkat sebaiknya tidak hanya berdasarkan perasaan “kayaknya masih kuat”. Kondisi kesehatan perlu dilihat dengan lebih jujur, terutama jika jamaah memiliki penyakit kronis, baru menjalani perawatan, atau masih mengonsumsi obat tertentu.
Kementerian Kesehatan Arab Saudi menganjurkan jamaah memeriksakan kondisi kesehatan sebelum bepergian untuk memastikan kondisi stabil dan mampu menjalankan ibadah. WHO juga menyarankan konsultasi kesehatan sebelum perjalanan, terutama bagi orang dengan penyakit yang sudah ada sebelumnya.
Jangan Langsung Membatalkan Ketika Badan Sedang Tidak Fit
Pertama, lihat jenis keluhannya. Batuk ringan setelah perubahan cuaca tentu berbeda dengan kondisi yang membuat kamu sulit berjalan, sesak, mengalami demam tinggi, atau harus menjalani perawatan.
Coba lihat kemampuan tubuh dalam menjalankan aktivitas sederhana sehari-hari. Informasi ini bisa membantu kamu menjelaskan kondisi kepada dokter dan pihak travel.
Beberapa hal yang bisa kamu perhatikan:
- Apakah masih bisa berjalan tanpa mudah merasa lemas?
- Apakah masih mampu makan dan minum dengan baik?
- Apakah demam sudah turun?
- Apakah masih membutuhkan obat tertentu secara rutin?
- Apakah dokter sebelumnya meminta banyak istirahat?
- Apakah kondisi mengganggu tidur atau aktivitas sehari-hari?
Jangan menjadikan kondisi jamaah lain sebagai patokan. Tubuh setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Jika orang lain tetap berangkat setelah sakit ringan, bukan berarti kondisimu otomatis sama.
Kapan Jamaah Perlu Berkonsultasi dengan Dokter?
WHO menyarankan orang dengan kondisi kesehatan tertentu melakukan konsultasi sebelum perjalanan. Konsultasi juga tetap bermanfaat meskipun waktu keberangkatan sudah sangat dekat.
Dokter dapat melihat kondisi yang mungkin tidak terlihat dari keluhan sehari-hari. Dokter juga dapat menilai obat yang sedang dikonsumsi, kebutuhan kontrol, serta apakah kondisi kesehatan cukup stabil untuk menjalani perjalanan.
Kondisi yang Sebaiknya Tidak Kamu Nilai Sendiri
Perhatian lebih diperlukan jika jamaah baru mengalami atau sedang menjalani kondisi seperti:
- Penyakit kronis yang belum stabil
- Gangguan jantung atau pernapasan
- Diabetes yang membutuhkan pengaturan obat dan pola makan
- Tekanan darah yang belum terkontrol
- Gangguan ginjal
- Kondisi setelah menjalani tindakan medis atau operasi
- Keluhan yang membutuhkan kontrol rutin
- Penyakit yang membuat kemampuan berjalan atau beraktivitas menurun
Kementerian Kesehatan Arab Saudi juga secara khusus menganjurkan jamaah dengan penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung berkonsultasi dengan dokter sebelum perjalanan. Kalau dokter menyarankan penundaan, jangan menganggap keputusan tersebut sebagai kegagalan. Tujuannya justru memastikan perjalanan ibadah tidak menempatkan tubuh dalam kondisi yang terlalu berat.
Baca Juga: Apakah Boleh Membawa Power Bank ke Pesawat Saat Umroh?
Jangan Berangkat Diam Diam Tanpa Memberi Tahu Travel
Ada calon jamaah yang merasa cukup memberi tahu keluarga ketika sedang sakit. Padahal, jika keberangkatan tetap berjalan, pihak travel juga perlu mengetahui kondisi yang dapat memengaruhi perjalanan.
Kamu tidak perlu menjelaskan dengan istilah medis yang rumit. Sampaikan kondisi sebenarnya dan berikan dokumen yang tersedia.
Informasi yang sebaiknya disampaikan meliputi:
- Jenis penyakit atau keluhan yang sedang dialami
- Kapan gejala mulai muncul
- Obat yang sedang dikonsumsi
- Jadwal minum obat
- Hasil pemeriksaan terbaru jika ada
- Anjuran dokter
- Kebutuhan khusus selama perjalanan
- Kontak keluarga yang bisa dihubungi
Semakin lengkap informasinya, semakin mudah travel memahami kondisi jamaah. Jangan menunggu sampai sudah berada di bandara baru mengatakan bahwa kamu sedang menjalani pengobatan tertentu.
Siapkan Dokumen Medis Sebelum Masuk Pesawat
Dokumen medis sering terasa tidak penting ketika kondisi sedang baik. Namun, dokumen tersebut bisa sangat membantu ketika jamaah tiba-tiba membutuhkan pertolongan atau harus menjelaskan kondisi kepada tenaga kesehatan.
Kementerian Kesehatan Arab Saudi menganjurkan jamaah membawa laporan yang mencantumkan penyakit, obat, dan dosis. WHO juga menyarankan pelancong membawa dokumen kesehatan yang relevan selama perjalanan.
Isi Dokumen yang Sebaiknya Dibawa
Kalau kamu memiliki penyakit tertentu, minta dokter menyiapkan keterangan yang mudah dipahami. Simpan dokumen tersebut bersama barang yang mudah diakses.
Dokumen bisa memuat:
- Diagnosis atau kondisi kesehatan
- Nama obat dan dosis
- Jadwal penggunaan obat
- Riwayat alergi obat jika ada
- Hasil pemeriksaan yang masih relevan
- Kontak dokter atau fasilitas kesehatan jika diperlukan
- Keterangan mengenai kebutuhan khusus jamaah
Simpan salinan digital di ponsel sebagai cadangan. Namun, tetap bawa dokumen fisiknya agar kamu tidak bergantung pada baterai atau koneksi internet.
Obat Rutin Jangan Sampai Terputus
Kementerian Kesehatan Arab Saudi meminta jamaah membawa persediaan obat yang cukup, terutama untuk kondisi seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, penyakit ginjal, asma, alergi, dan diabetes. WHO juga menganjurkan membawa obat yang diperlukan dalam jumlah cukup untuk seluruh perjalanan serta kemungkinan keterlambatan.
Pisahkan Obat Berdasarkan Kebutuhan
Daripada memasukkan semua obat ke satu tempat, buat pembagian sederhana agar kamu tidak kesulitan ketika membutuhkannya.
- Obat yang harus diminum setiap hari
- Obat yang digunakan saat kondisi tertentu
- Obat cadangan sesuai anjuran dokter
- Salinan resep atau keterangan dokter
- Daftar dosis dan waktu minum
Untuk obat yang membutuhkan kondisi penyimpanan tertentu, ikuti petunjuk pada kemasan atau arahan apoteker dan dokter. Jangan memindahkan obat ke wadah tanpa label jika hal tersebut membuat identitas obat sulit dikenali.
Bagaimana Jika Sakit Tepat Menjelang Hari Keberangkatan?
Jangan langsung memutuskan sendiri bahwa perjalanan tetap berjalan atau harus dibatalkan. Hubungi dokter dan travel secepat mungkin. Kalau kondisi memburuk pada hari sebelum keberangkatan, segera komunikasikan perubahan tersebut.
Kamu perlu memastikan beberapa hal:
- Apakah kondisi memungkinkan untuk melakukan perjalanan udara?
- Apakah obat sudah cukup untuk seluruh perjalanan?
- Apakah membutuhkan surat dokter?
- Apakah kondisi membutuhkan pemeriksaan tambahan?
- Apakah ada kebutuhan khusus selama perjalanan?
- Apa prosedur travel jika dokter menyarankan penundaan?
Keputusan yang lebih cepat juga memberi travel kesempatan untuk membantu menjelaskan prosedur yang berlaku pada paket dan keberangkatan jamaah.
Baca Juga: Cara Agar Tidak Tersesat di Masjidil Haram dengan Mengenali Pintu Keluar
Jangan Memaksakan Keberangkatan Hanya Karena Takut Mengecewakan Orang Lain
Ada jamaah yang tetap ingin berangkat karena sudah menabung lama. Ada yang tidak enak kepada keluarga. Ada pula yang takut rombongan terganggu jika dirinya membatalkan perjalanan.
Kalau dokter menyatakan kondisi stabil dan perjalanan memungkinkan, siapkan obat, dokumen, serta komunikasi dengan travel dengan lebih rapi.
Kalau dokter justru meminta kamu menunda, dengarkan pertimbangan tersebut. Ibadah membutuhkan kesiapan. Kamu tidak perlu membuktikan kemampuan dengan memaksa tubuh yang sedang membutuhkan pemulihan.
Bersama Mabruk Tour, calon jamaah dapat membicarakan kebutuhan perjalanan sejak sebelum keberangkatan. Pembekalan manasik, persiapan teknis, dan pendampingan membantu jamaah memahami apa yang perlu disiapkan sebelum benar-benar berangkat ke Tanah Suci.
Karena perjalanan umroh yang baik tidak dimulai ketika pesawat lepas landas. Perjalanan itu dimulai ketika jamaah sudah tahu kondisi dirinya, memahami kebutuhannya, dan berani mengambil keputusan yang paling aman untuk menjalankan ibadah dengan tenang.