mabruk.co.id - Ada jamaah yang sudah berbulan-bulan mempersiapkan keberangkatan, tetapi masih bingung ketika ditanya, “Mana yang sebenarnya wajib dalam umrah?” Pertanyaan ini wajar. Di tengah banyaknya doa, adab, dan anjuran yang dipelajari sebelum berangkat, semua amalan kadang terasa sama pentingnya.
Padahal, jamaah perlu membedakan rukun, wajib, dan sunnah umrah. Ketiganya memiliki kedudukan yang berbeda. Rukun menentukan sah atau tidaknya rangkaian umrah. Wajib umrah memiliki ketentuan yang harus dijaga dan dapat menimbulkan konsekuensi tertentu jika ditinggalkan. Sementara sunnah melengkapi ibadah dan membuat pelaksanaannya semakin sesuai dengan tuntunan.
Kementerian Agama RI dalam materi manasiknya mencantumkan lima rukun umrah, yaitu ihram atau niat, thawaf, sa’i, tahallul, dan tertib. Sementara wajib umrah mencakup berniat ihram dari miqat serta meninggalkan larangan ihram.
Jangan Samakan Semua Amalan dalam Umrah
Ketika pertama kali mengikuti manasik, jamaah biasanya menerima banyak informasi dalam waktu yang cukup singkat. Ada tata cara memakai kain ihram, niat, thawaf, doa, sa’i, tahallul, sampai berbagai adab ketika berada di Masjidil Haram.
Rukun menjadi bagian yang menentukan keabsahan umrah. Jika salah satu rukun tidak terlaksana, jamaah tidak bisa sekadar menggantinya dengan amalan sunnah. Wajib umrah memiliki posisi berbeda. Dalam materi manasik Kemenag, jika jamaah meninggalkan salah satu wajib umrah, ibadahnya tetap sah dengan konsekuensi dam.
Sementara itu, sunnah memberi kesempatan kepada jamaah untuk menambah kesempurnaan ibadah. Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi juga mencantumkan beberapa amalan sunnah seperti melakukan idtiba bagi laki-laki saat thawaf dan berjalan lebih cepat pada tiga putaran pertama thawaf.
Lima Rukun yang Menjadi Inti Umrah
Rangkaian rukun umrah sebenarnya tidak sebanyak yang dibayangkan. Jamaah perlu memahami lima bagian utama dan menjaga urutannya.
1. Ihram atau Niat
Ihram dalam rukun umrah berkaitan dengan niat untuk memasuki ibadah umrah. Jamaah memulai keadaan ihram sesuai ketentuan miqat yang dilalui.
Di sinilah jamaah perlu berhati-hati. Memakai kain ihram tidak otomatis berarti seseorang sudah masuk ihram. Jamaah laki-laki dapat mengenakan kain ihram sebelum mencapai miqat untuk mempersiapkan diri. Niat dilakukan sesuai ketentuan ketika mencapai miqat.
2. Thawaf
Jamaah memulai putaran dari arah Hajar Aswad dan menjaga Ka’bah berada di sebelah kiri selama berjalan. Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi juga menekankan agar jamaah mengikuti arus pergerakan dan tidak memaksakan diri bergerak melawan arah kerumunan.
Bagian ini membutuhkan konsentrasi. Jamaah tidak perlu mengejar orang di depan hanya karena ingin tetap berdekatan dengan rombongan. Jika arus bergerak perlahan, ikuti ritmenya. Jangan sampai keinginan menyelesaikan thawaf dengan cepat justru membuat jamaah mendorong atau mengganggu orang lain.
3. Sa’i
Sa’i terdiri dari tujuh perjalanan. Jamaah memulai dari Safa dan mengakhiri perjalanan ketujuh di Marwah. Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi juga menjelaskan pola penghitungan tersebut dalam panduan umrah resminya.
Jamaah laki-laki memiliki tuntunan untuk mempercepat langkah pada area tertentu di antara Safa dan Marwah. Namun, jamaah tidak perlu menjadikannya perlombaan. Kondisi fisik, kepadatan area, dan pergerakan jamaah lain tetap perlu diperhatikan.
4. Tahallul
Panduan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi menjelaskan bahwa laki-laki mencukur atau memendekkan rambut, sedangkan perempuan memotong bagian rambut sesuai ketentuan. Tahallul menjadi bagian yang menandai berakhirnya rangkaian umrah dan keluarnya jamaah dari keadaan ihram.
Bagi laki-laki, mencukur seluruh rambut memiliki keutamaan tersendiri dibanding sekadar memendekkannya. Jamaah dapat memilih cara yang sesuai dengan tuntunan dan kondisi rambutnya.
5. Tertib
Empat rukun sebelumnya tidak dilakukan secara acak. Jamaah perlu menjalankannya sesuai urutan.
Karena itu, jamaah jangan hanya menghafal nama rukunnya. Pahami alurnya. Ketika berada di Tanah Suci, pemahaman urutan akan membantu kamu mengetahui tahapan yang sedang dijalankan dan apa yang harus dilakukan setelahnya.
Baca Juga: Makna dan Aturan Ihram dalam Haji dan Umrah yang Perlu Dipahami Jamaah
Dua Wajib Umrah yang Sering Membuat Jamaah Keliru
Setelah memahami rukun, jamaah perlu mengenali dua kewajiban yang sering menimbulkan pertanyaan saat manasik.
1. Berniat Ihram dari Miqat
Niat umrah termasuk rukun, sedangkan kewajiban melakukannya pada miqat menjadi bagian dari wajib umrah. Kemenag menjelaskan bahwa jamaah perlu memulai ihram dari miqat yang telah ditentukan.
Hal ini perlu jamaah pahami sejak sebelum berangkat. Rute perjalanan menentukan miqat yang akan dilewati. Jamaah yang berangkat dari Madinah menuju Makkah, misalnya, memiliki titik miqat yang berbeda dari jamaah yang langsung menuju Makkah melalui jalur lain.
2. Meninggalkan Larangan Ihram
Larangan tersebut mencakup beberapa hal seperti menggunakan wewangian, memotong kuku, mencabut atau memotong rambut, serta ketentuan khusus bagi laki-laki dan perempuan. Kemenag juga menjelaskan larangan seperti berburu dan melakukan hubungan seksual selama ihram.
Karena larangan tersebut berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, jamaah sebaiknya mempersiapkan diri sebelum masuk ihram. Produk perawatan pribadi, misalnya, perlu diperiksa agar jamaah tidak refleks menggunakan parfum setelah mandi.
Lalu Apa yang Dimaksud dengan Sunnah Umrah?
Contohnya bisa berkaitan dengan tata cara thawaf dan sa’i. Panduan resmi Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi menyebut beberapa sunnah seperti idtiba bagi laki-laki ketika thawaf, berjalan cepat pada tiga putaran pertama, salat dua rakaat setelah thawaf, serta mempercepat langkah di area tertentu ketika sa’i bagi laki-laki.
Jamaah perlu memahami satu hal. Sunnah tidak boleh membuat pelaksanaan rukun menjadi terganggu. Misalnya, seseorang ingin mendekati Hajar Aswad untuk mendapatkan keutamaan tertentu. Jika kondisi sangat padat, ia tidak perlu memaksakan diri sampai mendorong jamaah lain. Menjaga ketertiban dan mengikuti arahan petugas tetap perlu diperhatikan.
Manasik Mabruk Membantu Jamaah Memahami Praktiknya
Bagi calon jamaah, membaca urutan ibadah di internet memang membantu. Namun, ada perbedaan antara membaca “thawaf dilakukan tujuh putaran” dengan memahami apa yang harus dilakukan ketika putaran sedang berlangsung dan rombongan mulai terpisah.
Mabruk memberikan pembekalan manasik dan pendampingan agar jamaah tidak hanya mengetahui istilah dalam ibadah, tetapi juga memahami penerapannya selama berada di Tanah Suci. Pendekatan seperti ini terasa lebih membantu bagi jamaah yang baru pertama kali menjalankan umrah dan masih memiliki banyak pertanyaan praktis.
Jamaah dapat membicarakan hal-hal yang sering muncul di lapangan, mulai dari persiapan ihram, perjalanan menuju miqat, pelaksanaan thawaf dan sa’i, sampai tahallul.
Pendampingan juga membuat jamaah tidak harus menghadapi kebingungan seorang diri ketika kondisi di lapangan berbeda dari apa yang dibayangkan saat masih berada di Indonesia.
Baca Juga: Cara Mencegah Heatstroke Saat Ibadah Haji Agar Tetap Aman
Jangan Tunggu Sampai di Makkah Baru Belajar Manasik
Kamu tidak perlu menghafal puluhan halaman sekaligus. Mulai dari memahami urutan utamanya. Setelah itu, pelajari kewajiban yang harus dijaga dan baru lengkapi dengan amalan sunnah.
Urutan sederhananya bisa kamu ingat seperti ini:
- Ihram dan niat sesuai ketentuan miqat
- Thawaf tujuh putaran
- Sa’i tujuh perjalanan dari Safa menuju Marwah
- Tahallul
- Menjalankan seluruh rukun secara tertib
Bagi Mabruk, pembekalan seperti ini menjadi bagian penting agar jamaah berangkat dengan pengetahuan yang cukup. Tujuannya bukan membuat jamaah menghafal sebanyak mungkin, tetapi membantu mereka memahami apa yang sedang dilakukan ketika sudah berada di depan Ka’bah.
Umrah merupakan perjalanan yang sangat dinantikan. Wajar jika jamaah merasa gugup, terutama ketika pertama kali menjalankannya. Dengan bekal ilmu yang jelas dan pendampingan yang terarah, rasa gugup itu bisa berubah menjadi kesiapan.
Mabruk Tour membantu jamaah mempersiapkan perjalanan tersebut dari Indonesia agar ketika tiba di Tanah Suci, jamaah dapat lebih fokus menjalankan ibadah dengan tenang dan memahami setiap tahap yang sedang dilaluinya.